Pembangunan Sochi: Keberhasilan Diplomasi dan Kepentingan Putin

sochi_olympics_140311240_fullwidth

Sepanjang tahun 2014, Sochi, kota kecil yang berada di tepi Laut Hitam, Rusia mendapat sorotan penuh dari dunia internasional. Sebagai tuan rumah penyelenggaraan ajang bergengsi Winter Olympic atau Olimpiade Musim Dingin 2014, Sochi melewati proses panjang dalam mempersiapkan diri. Pembangunan Sochi bermula dari terpilihnya kota ski resort di Rusia ini berkat upaya diplomasi Vladimir Putin pada pertemuan International Olympic Committee (IOC) ke 119 di Guatemala, 4 Juli 2007.

Sochi harus bersaing dengan kota Salzburg di Austria dan Pyeongchang di Korea Selatan. Pada voting ronde pertama, Salzburg tersingkir, menyisakan Pyeongchang di urutan pertama dan Sochi di urutan kedua. Rusia berhasil mengalahkan Korea Selatan setelah Vladimir Putin selaku Perdana Menteri saat itu mempromosikan langsung kota Sochi ke seluruh anggota IOC. Berbeda dengan Korea Selatan yang dipresentasikan oleh wakil delegasi beraggotakan 60 orang meski dihadiri pula oleh kepala negaranya, Roh Moo Hyun.

p[utin Guatemala 2007

Vladimir Putin di pertemuan International Olympic Committee (IOC) ke 119

Dalam bahasa Inggris yang diakhiri dengan sebuah kalimat Prancis, Putin sukses menggambarkan keunikan Sochi sebagai sebuah kompleksitas wilayah yang memiliki area pantai sekaligus pegunungan bersalju. Bahkan, Putin sempat menyelipkan pengalamannya ber-ski di padang salju Sochi. Menurutnya kondisi alam Sochi sangat cocok sebagai arena bertanding. Kepiawaian Putin dalam memenangkan Sochi juga terungkap lewat janji pembangunan fasilitas pertandingan serta sarana dan prasarana yang menunjang penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin 2014, termasuk masalah keamanan, infrastruktur, dan pembangunan komunikasi massa. Presentasi Putin inilah yang menjadi keunggulan yang mampu memikat seluruh anggota IOC, sehingga Sochi pun menang 4 suara lebih banyak dari Pyeongchang.

Proyek Ambisius

Saat diumumkan menjadi tuan rumah Olimpiade di tahun 2007 silam, hampir tidak ada infrastruktur yang dapat dibanggakan dari kota kecil di pinggir Laut Hitam ini. Komplek perumahan belum berkembang bahkan transportasi massa masi terbatas. Pemerintah Rusia melakukan pembangunan besar-besaran demi mempersiapkan sebuah kota yang layak bagi Olimpiade tingkat internasional. Mulai dari infrastruktur dan akomodasi dalam kota hingga sarana dan fasilitas pertandingan. Misalnya pembangunan jalan yang menghubungkan arena ice skating dengan resor ski di pegunungan, pemukiman atlet, pemukiman untuk awak media, bandara, stasiun kereta, jalur rel, dan hotel-hotel baru berstandar internasional.

sochi-games_2719021b

Sebuah wilayah di Sochi setelah pembangunan (atas) dan sebelum pembangunan (bawah) Kompleks Olimpiade Sochi

 

Dengan menghabiskan biaya sekitar 51 milyar dolar AS dalam waktu 7 tahun, ada 378 fasilitas pemerintahan dan 46 fasilitas regional, serta 13 fasilitas pertandingan dengan kapasitas masing-masing dapat menampung antara 3.000-12.000 orang. Anggaran ini berhasil mengalahkan modal 7 miliar dolar Olimpiade serupa sebelumnya di Vancouver Kanada, bahkan melampaui modal pembangunan ‘sarang burung’ Beijing untuk Piala Dunia 2014. Jadi tak heran jika Olimpiade Sochi tercatat sebagai Olimpiade Musim Dingin terbesar dan termahal di dunia.

olympic site

Kompeks Olimpiade Sochi

Publik menilai pembangunan Sochi sebagai proyek ambisius yang diawali oleh kegigihan berdiplomasi dan dilatari sejumlah kepentingan. Barston (1996) dalam bukunya, Modern Diplomacy, menyatakanbahwa diplomasi adalah upaya pengelolaan hubungan antar negara, cara-cara yang dilakukan pemerintah suatu negara untuk mencapai tujuannya dan memperoleh dukungan terhadap prinsip atau kepentingan negara tersebut. Diplomasi yang menghasilkan kemenangan Sochi mengindikasikan bahwa ini bukan hanya kemenangan Rusia di bidang olahraga, tapi sekaligus menunjukkan bahwa Rusia tengah membangun kembali citranya. Dengan menjadi tuan rumah pertandingan internasional, memori dunia akan Rusia khususnya Sochi akan terabadikan sepanjang masa.

Lebih lagi, pencalonan Sochi oleh Rusia tak hanya didasari oleh kecocokan alamnya semata, namun dilatari pula oleh sejarah kuat kejayaan kota ini di era Soviet. Sejak 1864, Sochi terkenal sebagai kota resor ski yang memiliki taman hiburan, hotel, dan spa yang dikenal juga sebagai Sanatoria. Di era Tsar, para penulis terkenal seperti Turgenev, Tolstoy dan Chekov rutin melancong ke Sochi. Di era Soviet, kosmonot, aktor, tokoh pemimpin seperti Josef Stalin dan Leonid Brezhnev juga menikmati waktu liburannya di Sochi. Bahkan, terdapat dacha (rumah peristirahatan) milik keduanya yang bisa disewakan sebagai ruang pertemuan atau penginapan.

Namun sayang, setelah Uni Soviet runtuh, sanatoria merosot popularitasnya. Bangunannya tidak lagi direnovasi karena perlu biaya pemeliharaan yang besar sehingga kurang terawat. Para turis akhirnya tidak tertarik dan memilih berlibur ke Turki, Mesir, dan sekitarnya. Ke depannya, pembangunan Sochi harus berdampak pada pemulihan pariwisata kota ini dan memikat lebih banyak turis, baik lokal maupun mancanegara. Termasuk, membawa perubahan bagi wilayah sekitar Sochi seperti Abkazhia dan Kaukasus Utara yang selama ini dikenal sebagai zona konflik.

Untuk memenuhi impian besar Rusia ini, berbagai upaya dilakukan untuk memperoleh dana. Diplomasi dalam negeri pun dilancarkan demi mendapatkan investasi. Iming-iming yang ditawarkan kepada para investor adalah bahwa Olimpiade Sochi merupakan ajang ‘suci’ yang dijamin penuh oleh negara, sehingga negara memastikan hutang-hutang terkait penyelenggaraan Olimpiade akan diselesaikan dalam jangka panjang.

Tawaran ini ditanggapi oleh para investor sehingga mereka pun tak ragu menanamkan modalnya. Di antaranya, bank pemerintah Vnesheconombank (VEB) yang mengucurkan 6,7 milyar dolar dan Oleg Deripaska, miliuner sekaligus pengusaha logam yang berinvestasi atas dasar ingin mengembangkan Sochi yang juga merupakan kota kelahirannya. Deripaska optimis jika pinjamannya akan tepat sasaran untuk membangun infrastruktur yang kelak akan berimbas pada perkembangan Sochi dan wilayah Krosnadar secara keseluruhan.

Kepentingan Pribadi

Sementara itu bagi Putin, penyelenggaraan mewah Olimpiade di Sochi turut melambungkan namanya sekaligus menjadi bukti kiprahnya di pemerintahan selama 15 tahun belakangan. Demi kesan prestasi ini, Putin seolah tak ambil pusing ketika muncul kendala-kendala dalam usaha membangun Sochi. Mulai dari pencemaran lingkungan, pengambilalihan lahan yang kurang adil, kurang maksimalnya pemberdayaan daerah tertinggal, hingga lalainya pembayaran upah para pekerja. Termasuk pula, tuduhan korupsi karena diduga adanya penyelewengan dana yang menguntungkan sejumlah kolega lama, seperti: Vladimir Yakunin (Direktur Perkeretapian Rusia)  — yang memiliki dacha bersebelahan dengan dacha Putin—mendapat jatah mengelola kontrak proyek bernilai 9,4 miliar dolar; The Rotenbergs (Arkady dan Boris) selaku pemilik SMP Bank dan SGM Group, memenangkan kontrak senilai 7,4 miliar dolar; German Gref (CEO Sberbank) yang memegang proyek pariwisata; Vladimir Potanin (Ketua Interros) yang atas persetujuan Putin ingin meluaskan resor miliknya hingga ke pusat area Olimpiade.

resort

Jajaran resor, hotel, tempat hiburan dan spa di Sochi

Dalam hal keamanan, Putin juga termasuk diuntungkan karena ia memiliki dua dacha di Sochi. Salah satunya yang dikenal sebagai Lunnaya Polyana atau Moon Field, berlokasi dekat dengan Sochi National Park, yang termasuk UNESCO World Heritage Site. Dalam dacha elitnya ini, Putin membangun 2 vila kecil, 2 helipad, pembangkit listrik dan 2 ski lift. Dacha ini dilindungi oleh 30.000 pasukan khusus Spetsnaz dari militer Rusia yang tersebar hingga ke pegunungan. Padahal, pasukan ini utamanya ditujukan untuk melindungi Olimpiade dan diharuskan menetap di pegunungan hingga pertandingan selesai untuk berjaga-jaga terhadap teroris dari Ossetia Utara, Chechnya, dan Dagestan.

Namun terlepas dari banyaknya intrik dan kritik terhadap pemerintahan Rusia di bawah Putin, pada akhirnya memori dunia hanya akan merekam kesuksesan dan kemegahan penyelenggaran Olimpiade Sochi. Usaha Putin di Guatemala 2007 telah menjadi contoh salah satu keberhasilan diplomasi yang membawa dampak besar, baik bagi Rusia maupun dunia internasional. Sementara,  masalah-masalah yang timbul di dalam negeri seperti pelunasan hutang, penyelesaian kerusakan lingkungan, dugaan korupsi, dan kesinambungan kemajuan di Sochi sejatinya adalah tantangan yang harus dituntaskan oleh pemerintahan Putin ke depannya. (Intan Boenarco/Editor: Monica Dian/Image: various)






Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *