Lima Hari Menjelajah Praha (II)

1 Praha

Hari ketiga saya kembali menyusuri Old Town bersama teman saya. Karena kami harus menghemat budget, maka kami makan siang di restoran Vietnam atau restoran Cina. Biasanya mereka memiliki menu yang harganya terjangkau dengan porsi makanan cukup besar.

Kami mengawali perjalanan kami ke Prague Castle. Perjalanan menuju Istana ini sangat melelahkan karena cuaca panas yang membuat kami cepat dehidrasi, serta tanjakan-tanjakan yang harus dilalui untuk sampai ke atas. Saran saya, sediakan persediaan air yang cukup karena harga jual air di atas menjadi dua kali lipat.

Di Istana Praha terdapat Gereja Saint Vitus yang memiliki desain arsitektur yang sangat unik dan interior gereja yang sangat indah. Dengan membayar 350 krona (189.000 rupiah), maka kita sudah dapat mengunjungi wilayah Istana, masuk ke Gereja St. Vitus serta masuk ke beberapa wilayah Istana. Dalam Istana ini juga terdapat museum mainan yang merupakan kumpulan mainan-mainan jaman dahulu.

Dari Istana Praha, kami mengunjungi museum Franz Kafka. Franz Kafka merupakan seorang penulis yang menghasilkan karya-karya yang menggambarkan kehidupan psikologis manusia yang ekstrim. Dia dianggap sebagai salah seorang penulis berpengaruh di abad ke-20. Setelah melihat Museum Franz Kafka, kami mengarah kembali ke Old Town. Menyusuri Old Town saat senja memberikan kesan tersendiri. Warna langit yang berubah menjadi biru gelap, ditemani dengan matahari yang setengah terbenam menjadikan kota Praha indah di waktu senja.

Senja di kota Praha

Senja di kota Praha

Kalau Anda pecinta fotografi, banyak sekali sudut-sudut kota Praha yang dapat dijadikan objek fotografi. Old town Praha terkenal dengan banyaknya gang-gang kecil yang mengarah ke Charles Bridge dan Wenceslav Square yang merupakan tempat favorit turis untuk mengabadikan foto-foto mereka.

Di sisi kanan dan kiri terlihat banyak penjual yang menjual hasil karya mereka berupa aksesoris kalung yang dibuat dari batu. Terlihat pula para pelukis jalanan yang dapat melukis dengan cepat. Hal menarik lainnya adalah musisi jalanan yang bermain musik  dengan sangat bagus. Salah satunya adalah grup “Electro Shock” dengan anggota sebanyak 6 orang yang memainkan simfoni klasik. Mereka merupakan gabungan dari mahasiswa konservatori di kota Praha. Saya berkenalan dengan salah satu dari mereka yaitu Marko, pemain biola. Jika suka, kita juga dapat membeli CD yang mereka rekam.

Charles Bridge

Charles Bridge

Dari sana, kami mengarah ke daerah perkampungan Yahudi (Židovské město) yang terletak di luar Old Town. Hal yang menarik adalah perkampungan Yahudi ini dikelilingi oleh butik-butik ternama seperti Dolce and Gabbana, Prada, Dior, dan lainnya.

Terdapat juga pemakaman Yahudi yang diapit oleh dua Sinagog, yaitu Pinkas dan Klausen. Pemakaman Yahudi ini termasuk salah satu pemakaman Yahudi tertua di Eropa. Di daerah ini juga dapat ditemui restoran-restoran yang menjual makanan Yahudi (Kosher Food). Dalam penerbangan saya dengan Aeroflot, saya selalu memesan menu Kosher Food, dikarenakan rasanya yang lezat dan porsinya lebih banyak dibandingkan porsi kudapan ringan yang disediakan oleh maskapai Aeroflot.

Setelah mengintip perkampungan Yahudi, saya kembali berjalan ke Wenceslas Square untuk melihat jam Astrologi yang masih berfungsi serta melihat kembali para artis jalanan yang beraksi di lapangan tersebut. Satu hal unik dari para artis jalanan ini adalah mereka memiliki jadwal pertunjukan di blok masing-masing agar tidak mengganggu satu sama lain saat sedang melakukan pertunjukan.

Jam Astrologi

Jam Astrologi

Setelah lelah berjalan, saya dan teman saya memutuskan untuk bersantai sejenak dengan menikmati jasa pijat ala Thailand. Dengan membayar 40 euro, kami dipijat seluruh tubuh selama 60 menit. Ini baru pertama kalinya saya merasakan pijatan ala Thailand.

Kami kembali ke hotel dengan kereta. Saat akan berganti jalur, di lorong pergantian tersebut terdapat segerombolan orang dengan baju preman, balutan jaket kulit hitam dan badan sigap, para petugas memeriksa tiket kereta penumpang.Terlihat beberapa penumpang panik karena tidak memiliki tiket. Inspeksi mendadak ini tentu saja mengejutkan banyak penumpang, karena jarang sekali ada pengecekan tiket di kota ini.

Kota Praha merupakan kota yang tidak terlalu besar. Jika tujuannya untuk melihat spot-spot turis, maka dalam waktu dua hari kita sudah dapat melihat semua objek yang menjadi unggulan. Hari keempat ini, saya memutuskan untuk memotong rambut saya. Ada hal yang menjadi pertimbangan bagi saya sebelum memotong rambut di suatu negara. Jika gaya rambut penduduk localmenarik, maka saya tidak keberatan untuk mengeluarkan uang lebih demi sebuah potongan rambut.

Saya pun masuk ke salah satu salon yang ternyata merupakan salon Asia. Sebagai orang Asia, akan pas sekali jika yang memotong rambut juga orang Asia. Mengapa? Karena biasanya mereka mengetahui celah-celah yang lebih rapi.

Saat memasuki salon, saya disambut oleh seorang wanita berambut pirang dengan logat Inggris bercampur Vietnam yang menawarkan semua produknya dari A-Z. Saya menjelaskan bahwa saya hanya ingin dipotong saja. Namun, saya tergoda untuk kembali mencoba pijat kepala yang saya pikir akan sama dengan Creambath di Indonesia. Namun saat dipijat, saya justru pusing dan leher saya kram 🙂 dengan membayar 800 Krona (430.000 ribu) rambut baru saya membuat wajah saya berubah seperti Presiden Korea Utara.

Setelah itu, kami memutuskan untuk melihat pasar suvenir. Hal yang paling tidak saya sukai saat membeli suvenir adalah, karena lebih banyak memikirkan orang lain daripada diri sendiri. Namun tanpa pusing saya mengambil beberapa suvenir yang bisa saya simpan. Semakin sering berlibur, semakin jarang suvenir yang saya beli karena saya tinggal di luar negeri maka repot jika akan dibawa pulang ke Indonesia.

Hari keempat terhitung lebih santai dan kami tidak memiliki tujuan yang jelas karena semua objek sudah kami lihat. Saya dan teman saya memutuskan untuk melihat “The John Lennon Wall” yang letaknya tidak terlalu jauh dari Old Town. Di tembok ini, terdapat pesan-pesan perdamaian yang terinspirasi oleh John Lennon. Sayang sekali di tembok tersebut sudah banyak grafiti baru yang membuat pesan asli dari John Lennon Wall sudah pudar dan tidak terlihat jelas. Lalu, kami menikmati sore hari di Kafe Starbucks. Kemudian malam terakhir di Praha kami habiskan di restoran khas Ceko dengan ditemani segelas bir dan makan malam.

Saya dengan senyum lebar

Saya dengan senyum lebar

Esok harinya, kami memutuskan untuk berangkat ke Bandara dengan menggunakan bis ekspres dari stasiun kereta pusat. Bis tersebut membawa kami ke Terminal 1 Bandara Internasional Praha. Di Bandara ini terdapat dua terminal. Terminal 1 untuk rute penerbangan ke negara non-Schengen dan terminal 1 untuk rute negara Schengen.

Bandara di kota Praha tidak terlalu besar namun memiliki ruang tunggu yang cukup nyaman dengan adanya akses wifi.  Saat saya memasuki gerai Duty Free, saya memperhatikan adanya perbedaan harga barang. Di Duty Free, untuk produk minuman beralkohol, harga untuk penerbangan negara non-Schengen lebih murah dibandingkan negara Schengen. Saya membeli dua botol minuman Becherovka yang merupakan minuman beralkohol khas Praha. Dua botol (500ml) seharga 250 Krona (135.000 rupiah).

Akhirnya saya tiba di Moskow dengan selamat. (Kontributor: Felix Kim – Alumni Sastra Rusia Universitas Indonesia angkatan 2000/Editor: Monica Dian/Image: koleksi pribadi)






Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *