Lima Hari Menjelajah Praha (I)

1 Praha

Banyak yang bilang kota Praha itu indah. Pria dan wanitanya rupawan. Saya tidak hanya ingin mendengar semua cerita bagus tentang kota Praha. Cuti bersama saat Idul Fitri saya gunakan untuk melancong ke kota Praha di Republik Ceko.

Perjalanan ke Praha dari Moskow memakan waktu kurang lebih 2,5 jam lewat jalur udara. Akses dari Bandara Internasional Václav Havel ke pusat kota, sebenarnya dapat ditempuh menggunakan bis ekspres dengan tarif 34 krona Ceko (atau sekitar 18.000 rupiah). Namun, hari itu saya memutuskan menggunakan taksi karena ingin cepat sampai ke hotel, berbenah dan melanjutkan perjalanan ke pusat kota.Saya membayar 26 euro untuk jasa taksi yang saya gunakan. Cukup mahal, namun dari Bandara ke hotel saya menginap yang terletak di bagian utara Praha memakan waktu kurang lebih 40 menit.

Saat itu saya belum memiliki uang setempat dan membutuhkannya untuk membeli tiket kereta. Untung lokasi hotel dekat sekali dengan stasiun metro. Saya mengunjungi kedai kecil di stasiun Strízkov untuk membeli air minum dan menanyakan tempat membeli tiket. Di stasiun Strízkov tidak terdapat loket pembelian tiket dan saya harus menarik uang di ATM karena kedai tersebut tidak menerima pembayaran dengan kartu.

Saya membeli tiket di kasir kedai tersebut. Tiket yang dijual bervariasi, mulai dari single entry sampai 3 days access. Harga untuk single entry adalah 31 krona (16.000 rupiah). Namun saya membeli akses untuk tiga hari seharga 310 krona (160.000 ribu). Tiket tersebut dapat saya gunakan untuk semua jenis transportasi umum di kota Praha. Tiket yang sudah dibeli harus divalidasi satu kali melalui mesin validasi tiket berwarna kuning yang terletak di pintu masuk kereta.

Stasiun Metro

Stasiun Metro Strízkov

Saya memperhatikan, bahwa tidak ada sama sekali penjagaan dan pemeriksaan tiket di stasiun. Saya duduk di kereta yang cukup nyaman. Tidak ada petunjuk berbahasa Inggris dalam kereta tersebut, namun saya cukup terbantu dengan bahasa Rusia saya, karena beberapa kata sangat mirip dengan bahasa Rusia. Kereta membawa saya dari stasiun Strízkov menuju ke Stasiun Hlavní Nādraží. Stasiun ini merupakan stasiun kereta utama kota Praha. Dari stasiun ini terdapat kereta-kereta antar kota dan antar negara. Semua sistem tertata dengan rapi. Loket tiket yang terletak di lantai dasar juga sangat rapi. Kemudahan pembelian tiket atau informasi sudah tersedia dengan baik.

Saya berjalan di dalam Stasiun Hlavní Nādraží untuk mencari tempat penukaran uang. Saya sangat terkejut, karena rata-rata tempat penukaran uang tersebut mengenakan komisi sebesar 10-11% dari harga tukar yang tertera di layar. Tentunya hal ini membuat saya rugi jika menukar uang di loket-loket tersebut. Solusinya adalah mencari ATM dari bank yang sama tempat saya menabung di Moskow agar tidak terkena komisi apapun.

Dari stasiun kereta Hlavní Nādraží saya berjalan tanpa tujuan menuju ke gedung-gedung yang menarik. Hanya berbekal peta offline dari HP saya mulai melakukan eksplorasi. Saya melihat National Museum dan State Opera tidak jauh dari stasiun kereta pusat. Lalu saya menuju ke daerah pedestrian di kota Prague, Vaclavske Namesti.

Pedestrian tersebut tertata dengan sangat indah. Beberapa restoran dan kafe mulai menjajakan hidangan mereka di pinggir-pinggir jalan tanpa mengambil hak pejalan kaki. Mulai terlihat makanan khas Ceko, yaitu Kaki Babi (Veprove Koleno). Saya meneruskan perjalanan saya sampai akhirnya saya memutuskan untuk membeli Sim card untuk akses internet. Saya membeli kartu di Vodafone dengan paket internet sebesar 4 GB seharga 400 krona (215.000 rupiah).

Hari pertama saya habiskan untuk sekedar melihat kota Praha. Kota Praha terbagi menjadi dua bagian, Old dan New Town. Old Town merupakan bagian pusat atraksi turis. Banyak bangunan bersejarah di sana karena lokasinya yang tidak terlalu besar, maka dalam waktu satu hari sudah dapat dijelajahi sepintas.

Hari kedua saya memutuskan pergi ke Kutná Hora yang dahulu merupakan kota tambang. Ada satu tempat yang menjadi objek di kota kecil ini, yaitu Kostnice Sedlec Ossuary yang merupakan lokasi pemakaman dengan kapel Katolik di tengahnya. Tempat ini dapat ditempuh melalui Stasiun Kutna Hora Nl dengan jarak kurang lebih 71 km dari Praha atau sekitar 57 menit.

Kostnice Sedlec Ossuary

Kostnice Sedlec Ossuary

Kostnice Sedlec Ossuary merupakan kapel Katolik yang terletak di bawah gereja “All Saints”. Kapel ini memiliki dekorasi tulang-belulang manusia sebanyak 40.000-70.000 tulang. Dengan membayar 100 krona (54.000 rupiah) saya memasuki kapel tersebut. Dari pintu masuk sudah terlihat hiasan tengkorak serta kerangka-kerangka manusia yang dihias menjadi tempat lilin atau lampu gantung. Kapel kecil ini sangat unik, karena semua yang terdapat di dalam dibuat dari tengkorak-tengkorak manusia. Pada jaman dahulu, penjaga kuburan membersihkan tulang belulang tersebut untuk dijadikan dekorasi kapel karena jumlahnya yang terus meningkat.

Setelah itu saya memutuskan untuk makan siang di salah satu restoran di samping lokasi pemakaman. Ada satu hotel yang terletak di samping pemakaman tersebut. Di restoran hotel ini saya memesan Veprove Koleno. Ditemani segelas bir khas Praha, rasa panas yang menjalar di tubuh terbayar sudah. Veprove Koleno porsi besar dengan satu gelas bir (500ml) dihargai 210 krona (113.000 rupiah). Rasanya benar-benar lezat! Saya tidak tahu bumbu apa yang digunakan, namun jika saya kembali berkunjung, saya pasti akan memesan Veprove Koleno lagi.

Veprove Koleno

Veprove Koleno

Di Kutna Hora tidak begitu banyak objek yang dapat dilihat, oleh karena itu, saya memutuskan kembali ke kota Praha. Tiket pulang pergi (Hlavní Nādraží-Kutná Hora Nl) berharga 210 krona (113.000 rupiah). Kereta tersebut datang setiap dua jam sekali dan kereta terakhir datang pukul 8 malam.

Saya kembali dengan kereta dengan kapasitas penumpang 100 sampai 150 orang. Suhu udara saat itu mencapai 35 derajat Celcius dan tidak ada AC dalam kereta tersebut. Sebagian penumpang sudah terlihat berkeringat dan kepanasan.

Sesampainya di Praha saya memutuskan untuk kembali ke hotel untuk berganti pakaian dan kembali ke pusat kota. (Kontributor: Felix Kim – Alumni Sastra Rusia Universitas Indonesia angkatan 2000/Editor: Monica Dian/Image: koleksi pribadi)

 






Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *