Bosnia & Herzegovina: Menepi sendiri di Sarajevo

sebilj-sarajevo

Akhirnya saya mengunjungi Sarajevo, ibu kota Bosnia & Herzegovina setelah gagal berkunjung tahun lalu. Saya memutuskan pergi ke Sarajevo dengan mobil tur dari agen travel. Setiba di Baščaršija, sebuah bazaar di Sarajevo yang termasuk pusat kota, saya sudah mulai mengagumi negara ini. Di sini terdapat masjid, restoran serta toko-toko souvenirs. Kurang dari 1 KM juga terdapat berbagai penginapan dari yang berjenis bed and Breakfast, Hostel maupun Hotel. Selama saya di Sarajevo, memesan penginapan langsung di tempatnya termasuk hal yang mudah.

Siang hari setelah beristirahat sejenak di hotel, saya berkeliling Baščaršija. Baščaršija dibangun sekitar abad ke-15 saat Isa-Beg Isaković, Gubernur pertama di Provinsi Ottoman, Bosnia, menemukan kota tersebut. Pada abad ke-19, terjadi kebakaran besar di sekitar Baščaršija dan menghanguskan setengah luas bazar tersebut. Namun, hal ini tidak mengurangi keindahan Baščaršija yang menjadi daya tarik wisata.

Jajaran kios di Baščaršija

Jajaran kios di Baščaršija

Satu  hal yang saya tidak pernah lupa saat itu adalah hidangan lezat yang disuguhkan dari restoran khas Bosnia, Sedef. Semangkuk daging gulung dan kentang habis saya makan dengan lahap. Harga makanan pun terjangkau sekitar 8 Marka Bosnia atau sekitar 4 Euro. Di Sarajevo atau Bosnia secara umum, cita rasa dan jenis makanan tidak terlalu berbeda dengan Serbia yang tidak terlalu banyak bumbu dan cukup sederhana. Di Bosnia lebih banyak variasi makanan olahan daging yang aman dikonsumi umat muslim melalui sertifikasi halal.

Masih berlokasi di Baščaršija, terdapat pula beberapa masjid, antara lain Masjid Gazi Husrev-Beg yang didirikan pada abad ke-16.Saya baru mengetahui pada saat itu.bahwa di Bosnia wanita tidak biasa sholat ke Masjid dan hanya laki-laki saja. sorenya saya mengunjungi masjid Istiklal. Masjid Istiklal. Sebuah masjid baru dari pemerintah Indonesia. Tempat sholat untuk wanita di masjid itu terletak di lantai dua.

Lantai dua Masjid Istiklal

Lantai dua Masjid Istiklal

Di Sarajevo, saya juga berkesempatan untuk berkunjung ke Sarajevo Tunnel yang merupakan sebuah terowongan yang dibangun sekitar tahun 1992 hingga 1995 di masa perang Bosnia. Terowongan ini menjadi saksi bisu dari berbagai keperluan makanan serta persenjataan yang dipasok selama perang berlangsung. Begitu kaya nilai sejarah di terowongan ini sehingga menjadi salah satu prioritas utama untuk dikunjungi dalam rangkaian perjalanan saya ke 16 negara saat itu.

20140618_151934

Saya di depan Sarajevo Tunnel

Saya yang memang tertarik mengunjungi pemakaman, terowongan dan tempat-tempat ibadah seperti  Masjid, Gereja, Synagogue dan lainnya di bebagai negara, membuat kunjungan ke Sarajevo Tunnel ini menjadi salah satu yang berkesan. Akhirnya, salah satu impian saya ini terealisasi. (Kontributor: Sabriana Jayaputri – Alumni Sastra Rusia Universitas Indonesia angkatan 2003/Editor: Monica Dian/ Image: Koleksi pribadi & Tripadvisor)

 

 

 






Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *