Kehidupan Etnis Yahudi di Rusia (I)

RussiaJews1993

Rusia  merupakan salah satu tempat tinggal terbesar etnis Yahudi di dunia. Di wilayah ini etnis Yahudi dengan tradisi agama dan budaya yang dibawanya berkembang menjadi masyarakat majemuk yang bercampur dengan etnis asli Rusia. Orang Yahudi di Rusia adalah bagian dari keturunan Yahudi yang tersebar di berbagai negara Eropa, Asia dan Afrika. Pada akhir abad ke-19, terdapat sekitar 5 juta orang Yahudi di Rusia. Sekarang ini banyak etnis Yahudi maupun campuran Rusia – Yahudi yang menjadi warga negara Rusia.

 

Kedatangan Etnis Yahudi di Rusia

Pada abad ketujuh banyak orang-orang Yahudi dari  Yunani, Babilonia, Persia, Timur Tengah dan wilayah Mediterania berimigrasi ke Kaukasus dan sekitarnya. Pada paruh pertama abad kedelapan, Khazar menjadi sebuah kerajaan baru yaitu kerajaan Yahudi. Kerajaan Yahudi Khazar dalam literatur kuno Rusia disebut sebagai “Tanah orang-orang Yahudi.” Namun setelah kerajaan Yahudi Khazar diruntuhkan oleh kerajaan Sviatoslav I dari Kiev (969), orang-orang Yahudi Khazar banyak  yang melarikan diri ke Krimea, Kaukasus, Rusia dan Kekaisaran Kiev yang sebelumnya pernah menjadi bagian dari wilayah Khazar. Pada abad kesebelas dan kedua belas yaitu pada periode Kiev orang-orang Yahudi sudah hidup terpisah.

Wilayah Kerajaan Khazar

Wilayah Kerajaan Khazar

 

Diskriminasi, Pogrom dan “Neraka Pemukiman”

Di bawah pemerintahan Ivan IV (1533-1584) warga Yahudi mulai mendapat perlakuan buruk. Dalam penaklukan Polotsk pada bulan Februari 1563, sekitar 300 orang Yahudi lokal yang menolak untuk masuk agama Kristen dikabarkan mati tenggelam di danau Dvina.  Di bawah hukum yang diperkenalkan oleh Yekaterina II (Catherine the Great) tahun 1791, semua orang Yahudi Rusia dipaksa untuk tinggal di sebuah kawasan yang disebut dengan “Neraka Pemukiman” (Pale of Settlement). Kata Pale diambil dari bahasa latin palus yang artinya pembakaran di tiang gantungan dan dalam bahasa Rusia disebut “cyorta sedlosti” (neraka pemukiman).

“Neraka Pemukiman” ini terdiri dari lima belas tempat di Rusia dan sepuluh di wilayah tetangga yaitu Polandia dimana membentang dari Riga ke Odessa, dari Silesia ke Vilna dan Kiev. Orang-orang Yahudi dilarang keluar dari “Neraka Pemukiman”, mereka juga hanya boleh beraktivitas di “Neraka Permukiman” sehingga ruang gerak mereka terbatas dan sangat diawasi. Hal ini dilakukan agar orang-orang Yahudi tidak dapat berkembang. Alasan dari kebijakan ini adalah masalah ekonomi dan nasionalisme.

Selain “Neraka Pemukiman” terdapat pula apa yang disebut Pogrom (berasal dari kata gromit’: menghancurkan). Pogrom berarti menghancurkan kaum minoritas dengan ciri: membunuh, menghancurkan rumah, bisnis dam tempat ibadah. Pogrom pertama terjadi tahun 1821 di Odessa. Pogrom paling parah terjadi tahun 1905 di Odessa dengan 2500 orang Yahudi dibantai, rumah-rumah mereka dibakar dan permukiman mereka dihancurkan.

Pada masa Nikolai I (1825-1855) ia berusaha untuk memusnahkan semua kehidupan Yahudi di Rusia. Pada 1825, ia memerintahkan pemuda-pemuda Yahudi untuk ikut wajib militer di usia 12 tahun. Banyak pemuda yang diambil secara paksa bahkan diculik. Hal ini berdampak pada penurunan jumlah masyarakat Yahudi di Rusia. Orang-orang Yahudi yang tidak dipaksa untuk mengikuti wajib militer banyak yang keluar dari kota-kota dan desa-desa mereka.

 

Peraturan Mei: Awal Gerakan Anti-Semit di Rusia

Alexander II  yang dikenal sebagai “Tsar Pembebas” menyetujui kebijakan dari politikus Polandia Alexander Wieloposki yang mengusulkan memberi warga Yahudi hak-hak yang sama seperti warga negara lain. Sayangnya kebijakan tersebut hanya dapat dinikmati oleh warga Yahudi dalam jangka waktu yang tidak lama menyusul kematian Tsar Alexander II.  Gerakan anti-Yahudi besar-besaran terjadi, setelah terjadi pembunuhan terhadap Tsar Alexander II. Gesya Gelfman yang membunuh Tsar Alexander II adalah seorang keturunan Yahudi.

Gesya Gelfman pelaku pembunuhan Tsar Alexander II

Gesya Gelfman pelaku pembunuhan Tsar Alexander II

 

Pada tahun 1881 terjadi pogrom di 166 kota Rusia, ribuan rumah warga Yahudi dirusak, sejumlah besar laki-laki, perempuan, dan anak-anak terluka dan beberapa dibunuh. Pemimpin baru pada masa itu , Alexander III, disalahkan atas kerusuhan dan pembantaian terhadap warga Yahudi. Pada Mei 1882, Tsar Alexander III menetapkan undang-undang  yang disebut dengan Peraturan Mei terhadap warga Yahudi.

Peraturan Mei ini berlaku dari tahun 1882-1917 dan merupakan kebijakan diskriminasi untuk memusnahkan orang Yahudi. Isinya mencakup batasan tanah Yahudi, melarang orang-orang Yahudi tinggal di desa, dan  pembatasan jumlah orang-orang Yahudi yang belajar di sekolah. Pada 1891, orang-orang Yahudi secara bertahap tersingkir dari Moskow. Polisi sangat diskriminatif menerapkan undang-undang ini dan media dilibatkan dalam propaganda anti-Yahudi. Pengecualian dibuat untuk pebisnis kaya, mahasiswa dan untuk profesi tertentu.

 

Bolshevik & Lenin: Penghapusan Gerakan Anti-Yahudi

Revolusi Bolshevik mendapat dukungan orang Yahudi. Banyak tohoh Yahudi yang ikut bergabung dan menjadi penggerak revolusi. Tohoh-tokoh tersebut atara lain Jacob Sverdlov diangkat menjadi ketua pertama komite sentral partai, Grigori Evseevich Zinoviev menjadi ketua Perhimpunan Kaum Pekerja Internasional, Maxim Litvinov sebagai menteri luar negeri, Karl Radek menjadi penata pers dan media propaganda komunisme di seluruh dunia, dan Leon Trotsky yang bernama asli Leo Davidovich Bronstein, orang kedua sesudah Lenin dalam hierarki pimpinan revolusi. Bahkan Lenin adalah keturunan Yahudi dari garis ibu.

Lenin, tokoh sentral Revolusi Bolshevik

Lenin, tokoh sentral Revolusi Bolshevik

Rezim Bolshevik menolak gerakan anti-Yahudi dan segala bentuk diskriminasi yang terjadi pada masa Kekaisaran Rusia. Menurut Lenin yang berusaha menjelaskan fenomena anti-semit dalam Marxisme: anti-Yahudi adalah suatu usaha untuk mengalihkan kebencian kelas pekerja dan petani dari tuan tanah kepada orang-orang Yahudi. Pada tanggal 21 Maret 1917, tak lama setelah tergulingnya Tsar Rusia, pemerintah sementara mengeluarkan dekrit yang menghapus pembedaan perlakuan berlandaskan ras dan agama, dan sejumlah tokoh Yahudi pun tampil di pucuk pimpinan partai. Kemudian disusul dengan dikeluarkannya kebijakan resmi dari Tentara Merah yaitu melarang serangan terhadap Yahudi, sehingga Yahudi bersimpati pada Tentara Merah dan rezim Soviet. (Monica Dian/Image: various)






Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *