Interpretasi Baru dalam Novel A Hero of Our Time Karya Mikhail Yuriyevičh Lermontov: Sebuah Tinjauan Realisme Psikologis

00871R-2

Karya sastra merupakan dunia kemungkinan, artinya ketika pembaca berhadapan dengan karya sastra, maka ia berhadapan dengan kemungkinan penafsiran. Setiap pembaca berhak dan seringkali berbeda hasil penafsiran terhadap makna karya sastra. Pembaca dengan horison harapan yang berbeda akan mengakibatkan perbedaan penafsiran terhadap sebuah karya sastra tertentu. Hal ini berkaitan dengan masalah sifat, fungsi, dan hakikat karya sastra. Sifat-sifat khas sastra ditunjukkan oleh aspek referensialnya (acuan), “fiksionitas”, “ciptaan”, dan sifat imajinatif. Ketiga unsur itulah yang menyebabkan masalah yang luas dan kompleks  dalam dunia sastra. Hal ini juga yang telah memungkinkan beragamnya teori dan pendekatan terhadap karya sastra serta beragamnya aliran dalam sastra.

Rachmat Djoko Pradopo, seorang pakar ilmu sastra, mengatakan periodesasi dalam melakukan kritik sastra itu meliputi pembacaan, penafsiran, analisis, dan penilaian. Dalam hal ini, ada keterkaitan antara kritik dan teori. Kritik sastra ada dan dapat melakukan pemberdayaan yang optimal jika ditunjang dengann teori-teori yang kuat.

Romantisme dalam kesusastraan Rusia telah menjadi bahan pembicaraan sejak awal abad 20-an. Romantisme Rusia terpusat pada para penulis, komposer, artis, dan pelaku seni. Pada saat itu apresiasi kesusastraan Rusia sangat dibatasi setelah tahun 1828. Kekuasaan ada pada Direktorat Sensor yang terdiri atas pemimpin-pemimpin Akademi Ilmu Pengetahuan dan Kesenian, Menteri Pendidikan, dan Menteri Urusan Dalam Negeri serta Luar Negeri, serta pemuka agama. Beberapa sastrawan Rusia yang terkenal pada masa romantisme adalah Karamzin, Vashily Zhukovsky, Konstantin Batyuskov, Alexander Polezhav, Vladimir Odoevsky, Nikolay Gogol, Mikhail Yuriyevičh Lermontov (selanjutnya akan disebut Lermontov). Gambaran-gambaran romantis menurut Lermontov adalah sebagai berikut: hidup yang pendek, tapi indah, ditandai dengan kisah cinta yang tidak bahagia, menolak autokrasi, kepahlawanan melawan para pegunung Kaukasus, dan seorang yang berbakat luar biasa diakhiri dengan kematian dalam sebuah duel.

Realisme psikologis adalah teori modern mengenai konsep penggambaran yang akan menimbulkan interaksi yang saling berkaitan antara pembaca dan teks, serta lingkungan tempat ia berada. Teori ini yang dikembangkan oleh James Gibson (1979) ini cenderung memberikan banyak interpretasi seolah-olah pembaca tidak mungkin dapat memahami teks, tetapi teori ini memberikan kebebasan kepada pembaca untuk membangun interpretasinya sendiri dari setiap bagian di dalam teks.

Interpretasi ini dapat diperoleh dari berbagai sisi yang ada di dalam teks misalnya moral, budaya, kelas, gender bahkan psikologi. Dengan menggunakan interpretasi tersebut, pembaca tidak akan menemukan titik jenuh dalam membaca sebuah teks seperti yang dikatakan Jacques Derrida, “Tidak ada titik jenuh dalam membaca sebuah teks.” Hal ini disebabkan interpretasi yang muncul itulah yang mengundang pembaca untuk memahami isi teks secara keseluruhan. Lermontov adalah penulis Rusia pertama yang menggunakan dan mengembangkan realisme psikologis dalam novelnya.

Karya masterpiece Lermontov, A Hero of Our Time (1837-1839) menampilkan lima cerita yang berbeda. Yaitu Bela, Maksim Maksimiych, Taman, Princess Mary, dan The Fatalist. Namun, saling terkait pada tokoh utama Grigory Alexandrovičh Pechorin (selanjutnya disebut Pechorin). Sedikit demi sedikit melalui beberapa “peralatan” sastra, kita akan dapat melihat sosok Pechorin, seorang petugas muda dan hero pada masanya dengan sangat detail. Karakter tokoh Pechorin yang sulit ditebak, cenderung egois merupakan suatu kajian menarik dalam novel A Hero of Our Time sehingga banyak pengamat dan kritikus sastra menganalisis novel ini terutama pada karakter tokoh utama. Salah satunya adalah Hannes Heino, dia mengemukakan Pechorin merupakan perwujudan tokoh Byronic hero. Dia melihat banyak ciri Byronic hero dalam diri Pechorin. Hal ini dikarenakan novel ini ditulis pada era romantisme dan Lermontov banyak dipengaruhi gaya romantisme George Gordon Noel Byron atau yang lebih dikenal dengan Lord Byron atau Byron – seorang sastrawan Inggris terkenal pelopor aliran romantisme—.

Byronic hero adalah karakter hero yang diciptakan Byron. Karakter ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut: pemberontak, penyendiri, pemurung, misterius, percaya kebebasan, pendendam, pembenci, seta terasing. Karakter Pechorin yang sesuai dengn Byronic hero antara lain pemurung, misterius, terasing dalam masyarakat, pemberontak, dan memiliki keinginan yang kuat untuk merasakan kebebasan, terlihat dalam kutipan berikut:

“For instance, he would spend days on end of hunting in rain and cold; everybody else would be chilled and exhausted, but not he.” (hlm. 151)

“ I have an inborn urge to contradict; my whole life has been a mere chain of sad and futile opposition to the dictates of either heart of reason.”(hlm. 215)

Meskipun Pechorin memiliki beberapa ciri yang sesuai dengan tipe Byronic hero, dia juga memiliki ciri-ciri lain yang membedakannya dengan tokoh Byronic hero pada umumnya (sebagai contoh, tokoh Onegin dalam Yevgeny Onegin  karya Alexander Pushkin):

I have unfortunate character; whether it is my up bringing that made me like that or God who created me so, I don’t know.(hlm. 176)

“After all, some people have an unreasoning fear of spider, cockroaches, mice…Shall I (Pechorin) confess? When I was still child, some old woman told my fortune for my mother, predicting that I would trough a wicked wife. It made a deep impression on me at the time, and an insuperable abhorrence for marriage grew within me.” (hlm.265)

“ ‘You always look at the seamy side of things.. you (Pechorin) materialist!’ he added scornfully.” (hlm. 238)

Berdasarkan kutipan di atas, Pechorin mempunyai karakter penakut karena sampai dia dewasa masih takut akan ramalan mengenai dirinya. Sifat penakut serta materialistis yang dimiliki oleh Pechorin merupakan sifat yang bertentangan dengan Byronic hero. Hal tersebut juga secara tersirat mengkritik tipe Byronic hero. Dalam kenyataannya, tipe hero yang sesuai dengan Byronic hero sulit ditemukan karena itulah Lermontov memasukkan sifat-sifat lain agar karakter hero yang dia ciptakan lebih realistis. Dengan fakta tersebut, kita dapat menemukan interpretasi baru yaitu Pechorin bukanlah tokoh Byronic hero, melainkan sebuah kritikan terhadapnya.

Novel ini merupakan novel romantis karena dibuat pada era romantisme dalam kesusastraan Rusia. Namun, jika diteliti lebih jauh, dalam novel ini juga terdapat unsur-unsur realisme yang keberadaannya tidak kalah banyak dari unsur romantisme, antara lain:

“ ‘How do they celebrate weddings?’ I ask the captain ‘ Oh, in the usual way. First the mullah reads them something from Koran, then resents are given to the newlyweds and their relatives. ‘ “ (hlm. 152)

Dari kutipan di atas terlihat bahwa pada saat itu agama Islam telah lama masuk ke Rusia dan telah menjadi bagian dari masyarakat Rusia.

 “Grushnitsky hastened to strike a dramatic pose with the help of his crutch and replidly in French: “Mon cher, je hais les hommes pour ne pas le mepriser, car autrement la vie serait une frarce trop degoutante.’ “ (hlm.213)

“  ‘You talk about a charming woman as if she were an English thoroughbred, ‘ said Grushnitsky indignantly. ‘Mon cher,’ I replied, trying to fall into tone, ‘je meprise les femme pour ne pas les aimer, car autrement la vie serait un melodrame trop ridicule.’ (hlm. 214)

Dari kutipan di atas dapat kita ketahui bahwa pengaruh Barat (Eropa Barat) telah masuk ke Rusia pada abad XIX. Masuknya pengaruh Barat menyebabkan lahirnya kaum Zapadniki (westernizer). Zapadniki terdiri atas para intelektual Rusia yang melihat bahwa masa depan bangsa Rusia berada dalam persentuhan langsung dengan Barat, karenanya adalah penting untuk mengadopsi ide-ide Barat demi kemajuan Rusia. Kelompok ini memuja tokoh-tokoh pemikir besar masa renaisans, filsuf-filsuf Perancis, pemikir Jerman abad XIX.

Seperti yang dikemukakan Stanton, novel realis menekankan kemiripan dengan dunia yaitu kemiripan yang menyangkut pada keberanian faktual. Hal tersebut sesuai dengan kutipan-kutipan di atas yang terdapat pada novel A Hero of Our Time sehingga berdasarkan fakta-fakta yang tertera di atas, akan lebih tepat jika novel ini digolongkan sebagai novel beraliran romantisme realis.

Perkembangan karya sastra yang dinamis memungkinkan para pembaca untuk bisa menganalisisnya dengan berbagai teori yang ada untuk menemukan sebuah penafsiran baru. Penafsiran baru yang membuat para penganalisis untuk selalu berpikir out of the box tanpa harus terkungkung dengan berbagai pernyataan yang sudah ada sebelumnya. Dengan dibekali dengan teori sastra yang ada, para penganalisis akan selalu menemukan hal-hal baru yang menarik untuk dianalisis sehingga tidak menutup kemungkinan untuk membantah pernyataan sebelumnya. (Astry Rizky/Editor: Monica Dian/Image: russianartandbooks)






Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *