Menapaki Kuršumlja: Bertamu ke “Kota Setan” (Đavolja Varoš)

Đavolja Varoš  dari jauh

Pada hari itu, Minggu 11 Agustus 2013. Saya pergi bersama seorang peserta dari Indonesia yang mengikuti program dari organisasi bernama AIESEC  (Singkatan yang berasal dari bahasa Prancis untuk Association internationale des étudiants en sciences économiques et commerciales). Dina nama peserta tersebut. Sekitar sebulan dia menjalankan program dari AIESEC di Beograd, ibukota Serbia. Saya yang sedang studi di Serbia bertemu Dina saat kami dengan mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di Serbia lainnya diundang makan malam di salah satu kediaman staf KBRI Beograd. Awalnya kami hanya sekadar berkenalan dan mengobrol sampai saya akhirnya berpikir kalau Dina dapat menjadi teman perjalanan saya yang menyenangkan.

Selama di Serbia, saya kerap kali traveling baik keluar kota Beograd ,maupun ke luar Serbia. Hingga tulisan ini dibuat, tercatat 12 kota di Serbia yang telah saya kunjungi baik sendiri, maupun bersama teman perjalanan dan 23 negara di luar Serbia sejak Februari 2013 hingga Oktober 2014. Dalam kesempatan kali ini, saya akan menceritakan pengalaman saya pergi ke Kuršumlja bersama Dina.

Pagi hari pukul 8:15 kami bertemu di stasiun bus Beograd. Perjalanan ditempuh hampir 5 jam. Tujuan kami sebenarnya ke  Đavolja Varoš atau jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kami pergi ke “Kota Setan”. Đavolja Varoš merupakan formasi batu-batuan yang unik yang terletak sekitar 27 km disebelah tenggara Kuršumlja. Disebut Kota Setan selain karena formasi bebatuan yang unik dari fenomena geomorfologi juga karena legenda di tempat tersebut.

Alkisah diceritakan daerah Đavolja Varoš ini dahulu kala dihuni oleh orang-orang yang religius. Hingga suatu saat, setan mengganggu penduduk di daerah tersebut dengan membuat  “Air Setan” untuk membuat mereka melupakan garis keturunannya dengan meminum air tersebut. Sehingga diharapkan terjadi pernikahan antara kakak dan adik.  Pada saat yang bersamaan, munculah peri yang berusaha melindungi daerah tersebut. Sepasang pengantin yang merupakan kakak dan adik yang tengah berjalan menuju gereja telah berhasil digagalkan sang peri melalui doanya agar pasangan inses tersebut tidak berakhir dalam sebuah pernikahan. Tuhan mengabulkan doa sang peri dengan mengubah seluruh tamu yang hadir menjelang pernikahan mereka menjadi bebatuan.  Legenda inilah yang menjadi salah satu riwayat mengapa Đavolja Varoš begitu unik selain fenomena alam juga menjadi bagian riwayatnya.

Đavolja Varoš dari dekat

Kembali kepada pengalaman saya saat pergi ke Đavolja Varoš, setibanya di stasiun bus Kuršumlja, saya dan Dina harus naik Taxi untuk menuju Đavolja Varoš tersebut. Berhubung tidak ada bus umum yang langsung ke sana karena hingga tulisan ini ditulis, hanya ada bus khusus turis yang memang telah diatur oleh travel agent. Supir Taxi yang ramah, yang mau menunggu kami hingga selesai berkeliling dan mengantar kembali ke stasiun bus dengan harga yang masih terjangkau menambah nilai plus dari perjalanan saya kali ini. 1000 dinar atau sekitar 10 euro pulang pergi,harga ini biasanya untuk sekali jalan. Beruntung kami dapat bertemu supir taxi yang baik hati atau mungkin juga wajah kami yang terlihat “kurang uang”.

Pada hakekatnya, perjalanan yang lancar ataupun tidak yang dapat terjadi dari beragam aspek, dapat menjadi pelajaran dan pengalaman yang baik untuk perjalanan saya selanjutnya. Namun, kali ini, saya dapat katakan bahwa teman seperjalanan, orang-orang yang kami temui selama perjalanan di kedai kopi, ataupun di restoran tempat kami makan selama di Kuršumlja, sangat mengesankan. Memang mungkin bagi orang Serbia di daerah tersebut, masih asing melihat ada orang “asing” lainnya seperti kami yang pergi ke sebuah tempat yang cukup jauh dari ibukota tanpa ikut travel agent. Saya pribadi menikmati semua pengalaman termasuk dengan teman seperjalanan saya kali ini, yang jujur saja, hanya berdasarkan feeling saya saja kalau dia memang menjadi salah satu teman perjalanan yang menyenangkan, and yes, She is!

(Foto dari kiri ke kanan: Saya dan Dina)

Hari mulai gelap setibanya kami di Beograd, dan Kuršumlja beserta Đavolja Varoš-nya menjadi kota ke-8 yang saya kunjungi dan yang saya tulis pertama kali di sini selain 12 kota lainnya yang telah saya kunjungi. Suatu saat saya akan berkunjung ke Kuršumlja kembali dengan mengunjungi tempat-tempat lainnya di sana dan mungkin juga dengan teman perjalanan lainnya ataupun sendiri. Sekian cerita perjalanan saya kali ini. Setiap negara memiliki keunikan tersendiri dengan kota-kotanya, begitu pula dengan Serbia. Melihat sisi lain selain Ibukota merupakan pengalaman yang berharga dan tak tergantikan saat utamanya mengunjungi tempat-tempat yang masih jarang diketahui banyak orang.

  -Perjalanan masih panjang, orang datang dan pergi, pejalan tetap berjalan sendiri maupun bersama sambil menikmatinya-

(Kontributor: Sabriana Jayaputri – Alumni Sastra Rusia Universitas Indonesia angkatan 2003/Editor: Astry Rizky/Image: Koleksi pribadi)






Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *