Maidan Nezalezhnosti dan Drama Politik Ukraina

4sfgdg kollaj ukr 2

Jejak-jejak bekas pembakaran masih terlihat jelas di jalan dan gedung-gedung di sekitar Maidan Nezalezhnosti. Pecahan-pecahan kaca dan puing-puing bangunan pun masih berserakan menyisakan ingatan kelam akan gerakan demonstrasi yang terjadi sejak akhir 2013 sampai pertengahan 2014. Gerakan massa di Maidan Nezalezhnosti pada 2013-2014 bukanlah yang pertama, setidaknya terdapat 2 gerakan massa serupa juga pernah terjadi di tempat tersebut.Lapangan yang oleh penduduk setempat biasa disebut Maidan Nezalezhnosti adalah salah satu objek bersejarah di ibukota Ukraina, Kyiv.

Kata Maidan Nezalezhnosti berasal dari bahasa Ukraina yang berarti Lapangan Kemerdekaan (Independence Square).Dahulu pada abad 19 lapangan ini dijuluki Khreschatyk Square. Pada masa Uni Soviet mengalami tiga kali perubahan yakni Rudyanska Square pada tahun 1919, menjadi Kalinin Square pada tahun 1935 (merujuk kepada nama Ketua Parlemen Supreme Soviet pada masa itu yakni Mikhail Kalinin) dan pada tahun 1977 pemerintah Soviet mengubah kembali menjadi October Revolution Square. Pada akhirnya sebutan Maidan Nezalezhnosti diberikan pasca kemerdekaan Ukraina dari Uni Soviet pada tahun 1991.

Lapangan yang terletak pusat kota Kyiv itu menjadi tempat dimana para pejuang politik Ukraina berkumpul untuk menyuarakan kemerdekaan Ukraina dari Uni Soviet. Tepat di tengah lapangan tersebut berdiri sebuah menara setinggi 40 meter yang dipuncaknya terdapat patung dewi Berehynia (dewi dalam mitologi Slavia) yang merupakan simbol pelindung bangsa Ukraina.Belakangan, Maidan menjadi sangat lekat dengan simbol pergerakan politik masyarakat Ukraina. Dalam 23 tahun terakhir setidaknya terdapat 3 kali gerakan politik besar yang berpusat di Maidan dan menjadi peristiwa besar yang mengubah sejarah politik negara tersebut.

Pergerakan massa besar yang pertama terjadi pasca Ukraina merdeka terjadi pada tahun 2001.Gerakan protes besar tersebut dikenal dengan “Ukraina tanpa Kuchma/Ukraine without Kuchma” (Leonid Kuchma merupakan Presiden kedua Ukraina setelah merdeka dari Uni Soviet). Beberapa pihak berpendapat bahwa pergerakan politik tersebut dipicu oleh ketidakpuasan sebagian masyarakat Ukraina atas pemerintahan Kuchma yang dinilai korup dan penuh skandal. Tiga tahun kemudian,tepatnya pada November 2004 kembali muncul ragkaian gerakan protes besar di Maidan akibat dugaan kecurangan Pemilu Presiden antara Viktor Yanukovich yang pada saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri dan tokoh oposisi Viktor Yuschenko.

Victor Yanukovich dianggap merupakan bagian status quo dari rejim Presiden Kuchma yan tidak dapat mencalonkan kembali sebagai presiden untuk ketiga kalinya. Saat itu, Viktor Yuschenko memimpin langsung gerakan protes besar menentang dugaan kecurangan pemilu tersebut yang dikenal dengan Revolusi Oranye (Orange Revolution).Massa pro Yuschenko melakukan aksinya sampai Januari 2005. Revolusi Oranye berakhir setelah Viktor Yuschenko memenangkan putaran kedua pemilihan presiden dengan total suara sebesar 52% sedangkan rivalnya yakni Yanukovich memperoleh 44% suara. Yuschenko kemudian dilantik pada 23 Januari 2005.

Sembilan tahun kemudian, Maidan Nezalezhnosti kembali menjadi saksi bisu perubahan yang sangat besar.  Kali ini, perubahan yang dibawa memberikan dampak yaang sangat serius bagi politik dalam negeri Ukraina maupun perubahan perimbangan kondisi politik di kawasan.Ukraina masuk ke ambang krisis. Krisis Ukraina berawal ketika gelombang aksi demonstrasi Euromaidan yang berpusat di Maidan Nezalezhnosti digelar karena Presiden Ukraina Victor Yanukovich memutuskan untuk tidak menandatangani Perjanjian Asosiasi Ukraina dengan Uni Eropa. Demonstrasi yang awalnya menuntut penggabungan Ukraina ke dalam UE kemudian berubah isu menjadi pelengeseran Presiden Yanukovich yang akhirnya dimakzulkan pada 22 Februari 2014.

Maidan Nezalezhnosti sebelum dan sesudah kerusuhan 2014

Maidan Nezalezhnosti sebelum dan sesudah kerusuhan 2014

Krisis di Ukraina terus berlanjut. Setelah Presiden Yanukovich dilengserkan, dan digantikan oleh pemerintahan ad-interim, yang dipimpin oleh Presiden Alexander Turchynov dan Perdana Menteri Arseniy Yatsenyuk, tarik menarik kekuatan yang melibatkan kepentingan asing antara Barat (EU dan US) dan Rusia semakin kentara terlihat.Spontan, suara-suara ketidakpuasan atas pergantian pemerintahan yang baru mulai bermunculan. Kelompok pro kemerdekaan di semenanjung Crimea yang mayoritas beretnis Rusia menuntut kemerdekaan dari Ukraina. Crimea merupakan wilayah yang amat strategis karena menjadi tempat Armada Laut Hitam Rusia berada untuk akses ke Laut Hitam dan Laut Mediterania. Pada 16 Maret 2014 pemerintah lokal Crimea menggelar referendum penentuan nasib Crimea.

Hasil penghitungan suaramenunjukkan 96,77% pemilih (1.233.002 suara) memutuskan bergabung dengan Rusia. Jumlah suara yang memilih kembali ke Konstitusi Republik Crimea tahun 1992 dan menjadi bagian dari Ukraina adalah 2,51% (31.997 suara). Tentu saja Pemerintah Ukraina melalui Perdana Menteri ad-interim Arsenii Yatseniuk tidak mengakui hasil refrendum tersebutt karena dianggap dilakukan di bawah tekanan Rusia. Namun demikian, Pemerintah Rusia tetap melakukan aneksasi wilayah Crimea ke dalam peta Federasi Rusia melalui pakta yang ditandatangani Presiden Putin pada 21 Maret 2014. Belum lagi usai permasalahan di Crimea, ketegangan antara pasukan pemerintah dan pasukan separatis terus menyebar dan berlanjut sampai saat ini di beberapa kota di Ukraina bagian Timur seperti Donetsk dan Luhanks.Sangat disayangkan, saat ini Ukraina berada di ambang perang saudara. Krisis Ukraina masih terus berlanjut dan belum menunjukkan tanda-tanda perdamaian. (Andri Noviansyah/Editor: Monica Dian/Image: various)



« (Previous News)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *