Catatan Kecil dari Rusia

Winter 2012 (iseng dengan teman2 foto di toilet umum)

Jujur saja, apa yang Anda pikirkan ketika pertama kali mendengar kata ‘Rusia’? Bagi beberapa orang Indonesia, tidak dipungkiri,masih adanya pemahaman tentang negara ini yang merupakan negara yang masih menganut atau memiliki sisa-sisa pengajaran komunis. Dingin? Tentu saja. Cuaca ekstrim di musim dingin mengharuskan saya yang datang dari negeri tropis bertahan untuk terus menghajar udara dingin di bulan Desember. Bertahan di empat musim itu susah susah gampang lho..

Suhu -15 C Menyambut Langkah Saya di Kota Moskow

Seperti cinta pertama, tentu saya tidak akan pernah lupa, hari itu, tanggal 7 Januari 2010 jam 14.55 pertama kalinya saya tiba di bandara Internasional, Domodedovo, Moskow. Suhu saat itu -15 c saja. Saya melihat dari jendela pesawat, salju masih turun dengan lebatnya. Saya hanya menghela napas panjang dan berkata dalam hati kecil, “So, Moscow… Here, I am…”.

Jujur saja, tidak ada suatu perasaan yang wow saat pertama kali saya mendarat. Justru saya masih berpikir, bahwa saya akan menghabiskan beberapa waktu saya ke depan untuk tinggal dan bekerja di Moskow. Untuk pertama kalinya saya bisa mengatakan, bahwa saya jugalah Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri untuk mencari pengalaman.

Moskow dengan segala kekakuannya mulai saya rasakan saat  saya menginjakan kaki saya di loket imigrasi. Untung, karena saya masih bisa berbicara bahasa Rusia. Melihat perlakuan petugas imigrasi yang sangat judes dan tidak ramah kepada orang asing, membuat saya berpikir saat itu, bahwa begitu sombongnya negara ini sampai tidak mau berbahasa Inggris kepada orang-orang asing yang berada di depan saya.

Bandara Internasional Domodedovo di Moskow

Bandara Internasional Domodedovo di Moskow

Proses penjemputan saya mengalami sedikit masalah. Saya mencoba mencari orang yang menjemput saya. Mungkin karena wajah saya lebih mirip wajah Asia Selatan ketimbang wajah Indonesia, jadi orang yang menjemput saya tidak mengenali kalau saya orang Indonesia. Maklum mata sipit dan kulit putih ini sering mengecoh kebanyakan orang. Apalagi dengan marga Kim yang melekat. Setelah beberapa waktu, saya berhasil menemukan orang yang menjemput saya. Itupun saya harus mengeluarkan kocek sebesar 300 rubel untuk meminjam telepon dari supir taksi.

Selama perjalanan dari bandara menuju tempat kerja baru saya, di sisi kanan dan kiri yang saya lihat tentu bukan pohon cemara, namun bangunan-bangunan tua tinggi dan semua berwarna putih. Kebetulan, tanggal 7 Januari tersebut merupakan hari raya Natal bagi Kristen Ortodok Rusia. Banyak pohon cemara yang dihiasi oleh hiasan Natal, namun tetap saja tertutup salju yang tebal.

 Di Rusia? Po Russkij, pozaluista..

Jangan pernah berpikir, bahwa banyak orang bisa berbahasa Inggris di Rusia. Sebut saja Moskow sebagai ibukota, dimana peradaban modern mulai terbangun secara terpusat. Di balik kemegahan gedung-gedung di Moskow serta gaya berpakaian orang-orang di Moskow yang sangat modis, bukan berarti they are international.

Coba saja Anda pergi ke salah satu kafe yang paling terkenal di Amerika Serikat, di daerah turis, di kota Moskow (inisial S). Bicaralah bahasa Inggris dengan salah satu barista di sana. Saya bisa pastikan, bahwa kebanyakan dari mereka akan gelagapan menjawab pertanyaan Anda. Dan jangan tersinggung jika mereka mengacuhkan Anda, karena mereka memang terlalu angkuh untuk mengakui keterbatasan mereka berbicara bahasa Inggris.

Saat ini saya sudah sangat kebal dengan bagaimana orang Rusia melayani pelanggan. Bersyukurlah kita sebagai orang Indonesia, yang lahir dengan budaya sopan santun yang diajarkan secara turun temurun.

Jangan bingung lho, kalau saat Anda berjalan-jalan di Moskow, seringkali Anda melihat banyak orang tidak tersenyum. Ya, itulah salah satu ciri khas orang-orang di Moskow. Mereka jarang tersenyum. Dan kalau kita tersenyum, bisa-bisa dianggap tidak waras. Kalau saya, saat ini sudah cuek saja. Tersenyum kan baik untuk kesehatan. Biar awet muda hehehe..

Selain itu, pelayanan pelanggan di Moskow sangat jauh di bawah standar Indonesia. Jika Anda datang ke sebuah restoran  biasa, pertama Anda akan dilayani dengan tanpa senyum, ditambah dengan bahasa yang terlalu cepat dan sedikit bernada tinggi. Bahkan ada kemungkinan Anda akan diacuhkan jika Anda tidak berbahasa Rusia.

Hal ini baru saja dialami oleh salah satu teman saya yang berkunjung ke Moskow. Dia tidak bisa berbahasa Rusia. Suatu saat, dia mengantri di salah satu kedai di food court di salah satu pusat perbelanjaan di lapangan merah yang merupakan daerah turis. Karena dia tidak berbahasa Rusia, kasir seringkali mengacuhkan dia dan pura-pura tidak melihat bahwa dia berdiri di antrian.

Bersama sesama WNI, Moskow, Musim Semi 2011

Bersama sesama WNI, Moskow, Musim Semi 2011

Saya bisa mengatakan, bahwa Moskow bukan kota turis. Selain mungkin tidak banyak yang bisa dilihat di Moskow, bahasa Rusia akan bermain peranan yang sangat utama jika Anda ingin berlibur di sini. Bayangkan semua petunjuk jalan ditulis dalam huruf planet bernama cyrilic. Belum lagi banyak sekali yang tidak berbahasa Inggris. Lengkap sudah petualangan Anda.

Namun di balik kesemerawutan kecil itu, Rusia menyimpan sesuatu yang indah yang sangat saya hargai.

Bagaimana brotherhood di Rusia berbeda dengan di Indonesia?

Orang Rusia tidak sedingin yang Anda kira. Di balik raut wajah dengan bibir tertekuk ke bawah, tersimpan hati yang hangat. Walau saya tidak bisa menggeneralisasi sifat ini, namun kebanyakan orang Rusia yang menjadi teman saya menunjukan hal yang sama.

Pacaran saja butuh pdkt, demikian juga berteman dengan orang Rusia. Mereka akan membangun tembok es tinggi saat mengenal Anda pertama kali, namun tembok es itu akan mencair dengan sendirinya jika kita bisa menunjukkan kehangatan kita dalam bersosialisasi.

Orang Rusia akan menunjukan isi dapur rumah mereka, jika kita sudah dianggap sebagai teman. Salah satu hal yang saya pelajari di sini adalah mereka tidak akan mengundang Anda berkunjung ke rumah mereka, jika Anda dinilai belum dekat dengan mereka.

Saat hubungan pertemanan semakin erat, mereka bisa sangat setia kawan. Ikatan setia kawan inilah yang sangat saya hargai di Moskow. Contoh saja, saat saya terbaring sakit, mereka bisa datang menembus badai salju jntuk membawakan sup panas buatan Ibu atau Nenek mereka. Mereka datang tidak membawa bunga, namun datang memberikan dukungan untuk pemulihan saya. Selain itu, mereka juga akan mengantarkan Anda ke dokter dan berbicara dengan dokter atas segala pengobatan yang akan kita terima.

Itu hanya sebagian kecil keindahan persahabatan yang saya rasakan di Moskow. Berteman denga orang Rusia bisa jadi sangat menyenangkan, karena mereka jarang sekali berbasa-basi. Jika mereka tidak suka, mereka akan mengatakan sejujurnya kalau mereka tidak suka. Jadi jangan pernah tersinggung jika Anda menawarkan sesuatu dan mereka berkata “nyeet” (terj. Tidak).

Berkumpul Bersama Teman-teman Rusia

Saat ini setelah saya menghitung, akan genap lima tahun saya tinggal di Rusia. Akan banyak kisah yang saya bisa tuliskan tentunya di kemudian hari tentang berbagai macam pengalaman saya di sini. (Kontributor: Felix Kim – Alumni Sastra Rusia Universitas Indonesia angkatan 2000/Editor: Monica Dian/Image: koleksi pribadi, www.domodedovo.ru)

 

 

 

 

 



« (Previous News)
(Next News) »



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *